Rabu, 19 Mei 2010

Biarkan Aku Menghindar....


uwita, bilur-bilur sepi memang sedang menyelusup di relung hatiku. Meski hanya untuk sementara, kesendirian ini memang sempat membuatku tertawan dalam jeruji sunyi. Tapi, bukan berarti kumiliki sejumput keberanian untuk menyulih kesepianku dengan tindakan nista. Jujur kuungkapkan, aku tersanjung dengan tawaran cintamu padaku. Namun dengan jujur pula kukatakan, aku tak kuasa membelah cintaku untuk perempuan lain selain ibu dari kedua anakku.

Juwita, ia memang tidak sepintar dirimu dalam bersolek. Tubuhnya memang tak seindah tubuhmu. Ia memang tidak pandai menyunggingkan senyum yang menggoda. Tapi, cintanya padaku sudah diuji oleh sang waktu. Dibasuh oleh genangan darah dan isak air mata. Pahit getir hidup telah kukecap bersama dengannya. Sungguh, aku adalah lelaki tak tahu di untung tatkala mulai memetik buah manis hidup, aku justru menikmatinya bersama perempuan lain.

Juwita, kusadari sepenuhnya, aku lelaki biasa yang bisa terseret dalam derasnya arus godaan wanita. Kuakui, kau memang menebarkan sejuta daya pikat. Namun, aku masih menyimpan tabungan takut pada Sang Pemilik Hidup. Tak kuasa kusambut uluran kasihmu. Rawatlah saja bunga cintamu pada lelaki yang telah mengayuh biduk rumah tangga bersamamu. Setangkup asa yang kau genggam untukku hanya akan menjelma sebilah pedang yang merobek jantungmu.

Biarlah aku dicibir sebagai lelaki pilon yang mencampakkan kesempatan emas. Biarlah aku dituding lelaki pecundang yang tak bernyali menantang badai dosa. Simpan saja segenap bujuk rayumu untuk memadu asmara denganku. Sungguh, betapa nistanya diriku jika aku terperosok untuk mencoreng kehormatanmu dan kehormatanku.

Belajarlah untuk merenda setia, Juwita, sebagaimana aku juga sedang belajar untuk merendanya. Kau pernah merasakan betapa pahitnya disodori empedu pengkhianatan, hingga kau pun menginsyafi betapa manisnya makna kesetiaan. Tak ada keagungan cinta yang tak diuji dengan kesetiaan. Tak ada kesetiaan yang tak diuji oleh kesepian. Jika kau lulus dalam ujian ini, kelak kau akan menyadari betapa indahnya cinta.

Karena itulah, akhiri saja petualanganmu. Kau tak kan pernah menemukan lelaki yang mampu memuaskan gairahmu. Berusahalah mensyukuri pasangan yang telah Tuhan pilihkan untukmu. Terimalah apa adanya keadaan dirinya, sebagaimana aku juga berupaya menerima apa adanya keadaan perempuan yang selama ini mengarungi samudra hidup bersamaku.

Berikan saja keindahan tubuhmu untuk lelaki yang telah mengucap janji setia denganmu. Tak usah kau pamerkan di depanku yang tidak berhak menikmatinya. Jangan kau rendahkan dirimu dengan mengiba cintaku padamu. Tak perlu kau jual murah kehormatanmu untuk meraih kenikmatan semu yang hanya akan menuai nestapa di ujung cerita.

Juwita, selaksa maaf kuhaturkan untukmu. Kusadari keadaan diriku, aku bukanlah lelaki idamanmu yang sanggup menuntaskan dahaga gairahmu yang senantiasa bergelora. Aku juga tak bisa membangun istana renjana bersamamu di atas puing-puing pengkhianatan. Tak sanggup kubayangkan, kau masih melambaikan tangan pada setiap lelaki yang memikat hatimu saat kau duduk mendampingku. Tak kuasa kulihat kau beringsut dari hidupku saat aku sudah tak mampu menenangkan gemuruh hasratmu.

Sudahlah, Juwita, jadilah istri yang setia dan ibu yang baik. Suamimu masih mendambakan gairah cintamu. Anakmu masih memerlukan belaian kasih sayangmu. Tak perlu lagi kau berlari mengejar kebahagiaan hampa yang hanya akan berbuah luka. Biarkan aku menghindar dari pusaran hidupmu. Biarkan aku terpejam dari kerling indah bola matamu

Jumat, 12 Maret 2010

Liang Bua Manggarai

Liang Bua (berarti "gua/lubang sejuk" dalam bahasa Manggarai) adalah salah satu dari banyak gua karst di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur di Indonesia. Gua ini terletak di Dusun Rampasasa, Desa Liangbua, Kecamatan Ruteng, Kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur.[1] dan merupakan tempat penemuan makhluk mirip manusia (hominin) baru yang dinamakan Homo floresiensis pada tahun 2001.[1]


Liang Bua gua batu kapur, yang dikenal temuan dari kemungkinan spesies baru genus Homo manusia juga dikenal sebagai Homo floresiensis (Manusia Flores). Terletak di pulau Flores Indonesia, di dekat desa pertanian Rampasasa, sekitar 14 km dari kota Ruteng. Pada tahun 2003 Liang Bua menemukan sisa-sisa, kerangka kecil, yang merupakan 18 000 tahun. Itu harus menjadi orang jenis baru. Beberapa ilmiah lain výkumy Namun, mereka menunjukkan bahwa ini adalah spesies manusia Homo sapiens, hanya masyarakat setempat memiliki kegagalan pertumbuhan. Namun, ini gagal untuk menunjukkan mengapa sedang dipertimbangkan untuk menemukan jenis baru manusia. Menemukan sebuah kerangka menunjukkan bahwa orang ini tinggi, sekitar 1 m. Jadi, dia telah dijuluki sebagai Hobbit. Liang Bua gua itu sendiri adalah indah, memiliki dekorasi yang indah. Adalah 50 m panjang, 40 meter dan lebar 25 m tinggi. Di dalam gua juga ditemukan tulang hewan purba Stegodon (gajah purba), komodo dan kura-kura dan kadal ..

Minggu, 17 Januari 2010

Danau Tiga Warna Kelimutu Ende Flores NTT

Perjalanan sekitar dua jam dari Kota Ende, Kabupaten Ende Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), ditempuh dengan sebuah mobil sewaan melintasi jalan berkelok-kelok, jurang dan tebing, serta kondisi jalan yang tidak mulus. Terasa melelahkan dan penuh tantangan, apalagi perjalanan dilakukan pada dini hari. Namun semuanya sirna setelah memasuki Kampung Moni, kampung terdekat menuju Danau Kelimutu.

Ibu-ibu menawarkan kain tenun Lio yang dijual di kaki Gunung Kelimutu yang menjadi pelataran parkir kendaraan pengunjung danau tersebut. Kain tenun Lio merupakan salah satu potensi lokal yang dijual masyarakat setempat bagi wisatawan.

Warna-warna Danau Kelimutu terus berubah. Perubahan itu bisa saja disebabkan oleh kandungan mineral, pengaruh biota jenis lumut dan batu-batuan di dalam kawah tersebut. Bagi masyarakat setempat perubahan warna itu mempunyai makna tersendiri.

Kampung Moni terletak di Desa Koanara, Kecamatan Wolowaru, Kabupaten Ende yang berjarak 13 kilometer dari Danau Kelimutu. Dari Moni hanya dibutuhkan waktu sekitar 45 menit untuk mencapai bibir Danau Kelimutu. Tepat pukul 08.15 Wita, setelah melintasi jalan setapak sekitar satu kilometer, kami tiba di bibir Danau Kelimutu. Danau tiga warna di puncak kawah Gunung Kelimutu yang menjadi salah satu dari keajaiban dunia ini, benar-benar mempesona dengan keindahan dan misteri yang tersimpan di puncak gunung setinggi 1.690 meter di atas permukaan laut itu.

Kelimutu merupakan gabungan dari kata keli yang berarti gunung dan mutu yang berarti mendidih. Kelimutu adalah satu dari sekian daerah tujuan wisata yang sangat terkenal di Pulau Flores, selain komodo, kampung tradisional Bena, dan Taman Laut Riung yang indah. Danau vulkanik dianggap ajaib dan misterius karena warna ketiga danau tersebut berubah-ubah, seiring dengan perjalanan waktu. Sebelumnya warna danau ini adalah merah, putih, dan biru.

Pada pertengahan 2006 lalu terjadi beberapa kali perubahan terutama untuk dua danau yang letaknya bersebelahan yakni Danau Arwah Muda-mudi (tiwu nua muri ko'o fai) dan Danau Arwah Tukang Tenung (tiwu ata polo). Danau Arwah Muda-mudi yang sebelumnya berwarna hijau, pada Juni tahun lalu sempat berubah menjadi biru. Sementara Danau Tukang Tenung atau Orang Jahat yang sebelumnya berwarna cokelat tua berubah warna agak kemerah-merahan. Satu danau yang terpisah, Danau Arwah Orangtua (tiwu ata mbupu) tetap berwarna hijau tua/lumut. Namun, pada Desember lalu ketika Pembaruan berkunjung ke danau tersebut Danau Arwah Muda-mudi kembali berwarna hijau, Danau Orang Jahat menjadi biru tua, dan Danau Orangtua menjadi cokelat kehitaman. Warna air Danau Kelimutu adalah misteri alam.

Pagi hari adalah waktu yang terbaik untuk menyaksikan Danau Kelimutu. Menjelang tengah hari, apalagi sore hari, biasanya danau diselimuti kabut yang menghalangi pandangan. Itu sebabnya para wisatawan biasanya bermalam di Kampung Moni dan baru berangkat ke Gunung Kelimutu dini hari. Kelimutu terletak sekitar 66 kilometer dari Kota Ende. Dari Ende dapat menggunakan kendaraan sewaan untuk perjalanan Ende-Kelimutu- Ende. Waktu perjalanan bisa ditentukan sendiri dan pengunjung dapat mencapai puncak Kelimutu. Untuk biaya yang lebih murah dari Ende dapat menggunakan bus umum, namun hanya sampai di Kampung Moni, tetapi sulit mendapatkan bus yang tiba pagi hari di kampung itu sehingga harus menginap di tempat itu. Perlu juga menyewa kendaraan pribadi atau ojek untuk mencapai puncak danau. "Kalau dengan kendaraan sewaan pengunjung bisa mampir di beberapa desa tradisional dan perjalanan diatur sesuai kesepakatan. Biasanya sekali jalan hingga pulang, butuh dua jam dengan harga Rp 400.000. Waktu tersebut sudah lebih dari cukup termasuk dua jam penuh menikmati Danau Kelimutu dan sekitarnya," kata Paul Yanca, sopir yang biasa menyewakan kendaraan pribadinya. Kelimutu dapat dicapai dari Ende menggunakan bus antarkota ataupun kendaraan sewaan, dengan harga dan waktu perjalanan yang relatif tidak jauh berbeda.

Sebuah cottage dari kayu adalah salah satu dari alternatif penginapan di Kampung Moni sebelum atau sesudah mengunjungi Danau Kelimutu. Tarif yang relatif murah dan pemandangan alam yang menarik merupakan kenikmatan bagi wisatawan dengan dana terbatas. Kelimutu diyakini juga sebagai tempat bersemayamnya arwah-arwah manusia. Danau yang terlihat pada gambar merupakan danau arwah orang tua (tiwu ata mbupu) letaknya terpisah dari dua danau lain yang saling berimpitan.

Flora

Untuk menginap di Kampung Moni terdapat sekitar 20 homestay yang dikelola penduduk dengan tarif Rp 25.000- Rp 50.000 per malam. Cottage milik pemerintah bertarif Rp 75.000-Rp 85.000. Kawasan Kelimutu dikelilingi hutan dengan flora yang jarang ditemukan di wilayah Flores. Ada pinus, cemara, kayu merah dan edelweiss. Sedangkan fauna yang ada seperti rusa, babi hutan, ayam hutan dan elang.

Apa yang terlihat saat ini tidak jauh berbeda dengan kondisi 10 tahun lalu ketika mengunjungi kawasan tersebut. Hanya sedikit perbedaan, jika 10 tahun lalu kendaraan pengunjung bisa mencapai bibir danau, saat ini kendaraan hanya bisa sampai di kaki gunung dan butuh 30 menit berjalan kaki menuju bibir danau ajaib itu.

Masyarakat setempat mempercayai bahwa Gunung Kelimutu keramat dan memberikan kesuburan pada alam di sekitarnya. Dalam beberapa kesempatan biasanya ada upacara masyarakat setempat dan memberikan sesajen kepada "arwah" yang menjaga kawasan tersebut.

Luas ketiga danau itu sekitar 1.051.000 meter persegi dengan volume air 1.292 juta meter kubik. Batas antardanau adalah dinding batu sempit yang mudah longsor. Dinding terjal tersebut memiliki sudut kemiringan 70 derajat dengan ketinggian antara 50 sampai 150 meter.

Gunung Kelimutu pernah meletus pada 1886 dan meninggalkan tiga kawah berbentuk danau tersebut dan ditetapkan sebagai taman nasional sejak 26 Februari 1992. Kelimutu juga merupakan tempat yang bagus bagi yang menyukai hiking dan menikmati kawasan desa pegunungan tropis

Taman Nasional Kelimutu (5356,50 ha) ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan No. 679/Kpts-II/1997 tanggal 10 Oktober 1997 terletak 60 km ke arah timur Laut Kota Ende atau terletak di antara 8048'21" - 8048'24" Lintang Selatan (LS) dan 121044'21" - 121050'15" Bujur Timur (BT).di belahan Tenggara Pulau Flores. Secara administratif merupakan bagian dari wilayah Kabupaten Ende Provinsi Nusa Tenggara Timur.. Terdapat keindahan alam yang luar biasa berupa fenomena alam yang tidak ada kembarannya di Muka Bumi yakni Tiga Danau Kawah yang selalu berubah warna. Keajaiban alam ini dibangun oleh aktivitas geologi gunung Kelimutu (1.690 m dpl) itu sendiri. Kelimutu memiliki iklim tropis yang relatif stabil dengan curah hujan berkisar antara 1.651 s.d. 3.363 mm per tahun dimana musim hujan jatuh pada bulan Desember s.d. Maret dan bulan-bulan terkering terjadi pada bulan Oktober s.d. Nopember. Suhu udara berkisar antara 25,5° – 31° celcius dengan suhu minimum mencapai 11,6° celcius yang terjadi pada bulan Juli – Agustus. Pada musim hujan semua tumbuhan berwarna hijau subur dan pada musim kering terutama pada bulan Oktober dan Nopember banyak tumbuhan yang meluruhkan daun. Kondisi tanah dan iklim sangat berpengaruh langsung terhadap flora dan fauna yang ada disini. Kawasan Taman Nasional Kelimutu terbadi dalam empat (4) zonasi (SK Dirjen PKA No. 16/Kpts/DJ-V/2001 yang terdiri dari : 1. Zona Inti seluas 350,50 ha, vegetasi dominan ( Vaccinium varingiaefolium), Cemara Gunung ( Casuarina junghuniana ), ( Rhododendron renschianum). Satwa dominan burung perkici, babi hutan, ayam hutan. 2. Zona Rimba seluas 4.351,50 ha, vegetasi dominan ampupu ( Eucalyptus urophylla ), cemara (Casuarina junghuniana), Ara (Ficus sp). Satwa dominan babi hutan, kera, ayam hutan, burung perkici. 3. Zona Pemanfaatan Intensif seluas 96,50 ha, vegetasi dominan kurusaku, ranga. Satwa dominan ayam hutan , burung perkici. 4. Zona Rehabilitasi seluas 558,50 ha, vegetasi dominan kurusaku, ranga. Satwa dominan ayam hutan, burung perkici. Kekayaan flora-fauna spesifik yang ada di salah satu zona wallacea ini diantaranya pohon Ampupu (Eucalyptus delgupta), E. Urophyla, juga berbagai jenis Ficus dan Cemara gunung ( Casuarina junghuhniana) mendominasi lembah-lembah dekat kawah. Pada pelataran sekitar kawah yang merupakan areal terbuka ditumbuhi Vaccinium, Rhododendron dan Eidelweis yang berbunga sepanjang tahun. Terdapat burung Garugiwa (Monarcha sacerdotum) Geologi dan Tanah Daratan Flores merupakan bagian dari jalur pegunungan vulkanik yang berawal dari ujung utara Sumatera, bersambung ke Jawa, Bali, Lombok, Sumba, Flores, Alor dan berakhir di Laut Banda. Kondisi lapisan tanah di Flores tergolong muda dan labil. Mungkin kedua hal inilah yang menyebabkan sering terjadi gempa baik tektonik maupun vulkanik di Pulau Flores. Tanah di kawasan Taman Nasional Kelimutu terdiri dari tanah regosol, mediteran dan latosol. Sedangkan formasi geologinya terdiri dari batuan basa menengah, batuan berasam kersik dan efusive berasam kersik. Topografi Topografi Taman Nasional Kelimutu bervariasi dari bergelombang ringan sampai berat dengan relief berbukit-bukit sampai bergunung-gunung dengan tingkat kemiringan atau lereng yang sangat terjal dan curam, terutama pada dinding-dinding dan areal sekitar danau. Topografi yang bergelombang berat umumnya terdapat di bagian Selatan kawasan. Ketinggian Ketinggian kawasan Taman Nasional Kelimutu berkisar antara 1.500 - 1.731 meter dpl. Titik tertinggi terdapat di puncak Gunung Kelibara, yakni mencapai 1.731 m dpl dan puncak Gunung Kelimutu 1.690 m dpl. Iklim Kabupaten Ende beriklim tropis. Suhu Udara rata-rata 21?C di pagi hari dan 31?C di siang hari. Musim hujan terjadi antara bulan Desember - April dengan curah hujan rata-rata antara 1.000 sampai 1.500 mm per tahun. Mei sampai November merupakan bulan musim kemarau. Berdasarkan klasifikasi Schmidt dan Ferguson Taman Nasional Kelimutu dikelilingi oleh pemukiman masyarakat dari komunitas adat LIO yang masih sangat kental dengan tata-krama adatnya. ini dicirikan dengan berpadinya sifat agraris, religi dan magis. berbagai acara seremonial adat yang digelar menunjukan betapa kuatnya kedekatan mereka dengan alam semesta, INE PARE adalah sebutan lain dari suku LIO karena secara mithologi merekalah yang pertama kali menemukan padi sebagai bahan ,makanan pokok sekarang ini. senyum dan kerama-tamahan mereka akan menyambut siapapun yang datang ke Taman Nasional Kelimutu. Sebagian besar penduduk bermata pencaharian sebagai petani/peladang. Mereka pada umumnya bekerja menggarap ladang atau kebun dengan jenis tanaman pangan yang biasanya mereka tanam adalah padi, jagung, ubi kayu dan jenis kacang-kacangan. Sedangkan jenis tanaman keras yang mereka pelihara adalah kakao, cengkeh, kemiri dan kopi. Disamping bekerja sebagai penggarap ladang/kebun sebagian dari mereka ada juga yang memelihara ternak dengan skala kecil dan masih bersifat tradisional. Ternak yang mereka pelihara antara lain sapi, babi, kerbau, kambing dan ayam. Seperti umumnya masyarakat lain suku Lio dalam pergaulan sehari-hari berbahasa suku Lio. Mereka memiliki adat istiadat yang masih melekat dan ditaati oleh seluruh anggota masyarakatnya, seperti dalam hal upacara perkawinan, upacara waktu tanam dan panen, membuat/memperbaiki rumah adat (keda) dan lain-lain. Mereka juga mengenal waktu-waktu tertentu yang menurut mereka tidak boleh ada aktivitas atau pekerjaan (Joka Ju) seperti berkebun, berladang dan lain-lain yang apabila dilanggar terkena sanksi adat (Poi). Taman Nasional Kelimutu merupakan salah satu taman nasional yang mempunyai keunikan dan nilai estetika sangat tinggi. Dalam kawasan ini terdapat tiga buah danau yang terletak di puncak Gunung Kelimutu. Masing-masing danau tersebut mempunyai warna yang berbeda-beda serta selalu berubah warnanya dari waktu-kewaktu. Danau Tiwu Ata Mbupu (danau arwah para orang tua) dan danau Tiwu Nuwa Muri Koo Fai (danau arwah muda-mudi) letaknya saling berdekatan dan danau Tiwu Ata Polo (danau arwah para tukang tenung) yang letaknya agak berjauhan dengan kedua danau sebelumnya. Selain keunikan dan keindahan bentang alamnya, yang melatarbelakangi kawasan Gunung Kelimutu dijadikan taman nasional adalah terdapatnya Selain keunikan dan keindahan bentang alamnya, di kawasan Taman Nasional Kelimutu terdapat 78 jenis Flora, 2 (dua) diantaranya merupakan jenis endemik Kelimutu yaitu Uta onga (Begonia kelimutuensis) dan turuwara (Rhondodenron renschianum) Pada saat musim berbunga antara Mei sampai dengan Agustus bagaikan taman Firdaus karena akan memberikan warna merah pada tepian danau. ada beberapa jenis satwa endemik Flores yaitu burung gerugiwa (Monarcha sp) burung endemik yang suaranya sangat merdu ini sering disebut burung arwah karena jarang sekali menampakkan diri dan sulit ditemui. Dengan kicauan yang riuh bersahutan burung inilah yang selalu menyambut kedatangan Anda di Kelimutu setiap fajar menyingsing yang memiliki kicauan dengan 11 suara yang berbeda, dan 3 jenis mamalia yaitu tikus lawo (Rattus hainaldi ), deke (Papagomys armandvillei ), Wawi ndua (Sus heureni). Selain itu terdapat objek-objek yang sangat menarik yang bisa dinikmati bagi para Wisatawan seperti : Rumah adat di kampung Wologai Tengah Kecamatan Detusoko merupakan salah satu dari 24 komunitas adat suku LIO yang berada di sekitar Taman Nasional Kelimutu dengan budayanya yang luhur sangat kental dengan perilaku agraris, religi sekaligus magis dengan kedekatannya yang kuat kepadaan alam, Seni tari adat LIO sering dipertunjukkan pada berbagai upacara atau pesta adat tertentu Tarian yang dibawakan secara masal bisa berupa Gawi, Mure, Ule Lela Nggewa, Wanda Pala dan banyak lagi yang bisa diikuti olehpara wistawan, Tenun ikat salah satu produk kerajinan tradisional masyarakat, dari motif dan bentuk kain kita bisa membaca produk asal kampung yang membuatnya. Motiv dan corak kain melukiskan suatu cerita yang mengandung makna filosofi tinggi. serta kelayakan penggunaan yang sesuai dengan eventnya yakni untuk menghadiri pesta adat, pesta pernikahan, acara religi ataupun suasana berkabung. Semuanya bisa menjadi kenangan yang tak terlupakan bila anda berkunjung ke Kawasan Taman Nasional Kelimutu.

Danau Kelimutu (Danau Tiga Warna)

Danau yang terletak di puncak gunung yang berketinggian 1.690 dpl ini merupakan sebuah danau yang unik, dimana air nya memiliki 3 warna dan unik sekali. Saat saya melintasi daerah itu dengan pesawat, terbukti memang sungguh indah sekali. Kelimutu sendiri memiliki arti yaitu, keli yang artinya gunung dan mutu berarti mendidih. terletak di Pulau Flores. Danau tersebut merupakan sebuah danau vulkanik dan dari ketiga warna warna tersebut bisa berganti ganti warna nya sesuai perjalanan waktu dan gejala vulkanik yang terjadi pada gunung tersebut. dan terkadang dikaitkan berubahnya warna tersebut dikaitkan dengan mitos mitos datangnya bencana yang sangat dipercayai masyarakat sekitar (Kecamatan Wolowaru, kabupaten Ende, NTT). Danau atau Tiwu Kelimutu di bagi atas tiga bagian yang sesuai dengan warna - warna yang ada di dalam danau. Danau berwarna biru atau "Tiwu Nuwa Muri Koo Fai" merupakan tempat berkumpulnya jiwa-jiwa muda-mudi yang telah meninggal. Danau yang berwarna merah atau "Tiwu Ata Polo" merupakan tempat berkumpulnya jiwa-jiwa orang yang telah meninggal dan selama ia hidup selalu melakukan kejahatan/tenung. Sedangkan danau berwarna putih atau "Tiwu Ata Mbupu" merupakan tempat berkumpulnya jiwa-jiwa orang tua yang telah meninggal. luas ketiga danau itu 1.051.000 meter persegi dengan volume 1.292 juta meter kubik. Danau ini sendiri ditemukan oleh Van Such Telen, warga negara Belanda, tahun 1915.



Sebenarnya mengapa danau tersebut bisa memiliki warna ya? apa ada yang iseng memberi pewarna? hehehe joke. berubahnya warna berhubungan dengan zat besi dan gas belerang yang sangat tinggi, dikarenakan gunung ini masih aktif, pembiasan matahari, serta pantulan dinding batu sekitaran danau itu turut andil menjadi penyebab berubah warna nya, selain itu adanya mikro biota dalam air yang menjadikan nya berwarna seperti itu (hal serupa juga terjadi dengan laut hitam dan laut merah). Contohnya antara lain meningkatnya kandungan besi (fe) dalam air mengakibatkan air menjadi berwarna kemerahan dan hijau bisa ditimbulkan dengan adanya lumut lumut yang hidup di dasar danau.

Kelimutu adalah nama gunung berapi yang berada di Flores Nusa Tenggara Timur (NTT), tepatnya berada kabupaten Ende Flores. Gunung Kelimutu mempunyai keunikan tersendiri yaitu memiliki danau berwarna yang selalu berubah-ubah, danau tiga warna itu menjadi sangat terkenal sehingga ramai di kunjungi wisatawan asing manca negara. Danau Kelimutu terkenal ketika berwarna Merah, Biru, dan Putih (seperti susu) warna-warna itu cerah bukan buram tetapi selalu berubah mengikuti warna dasar kawah gunung berapi itu.

Ketika saya pergi ke sana, saya masih kecil — hehehe sekarang saya kelas lima SD Tunas Bangsa Sunter, tepatnya waktu itu saya sebelum masuk TK Tunas Bangsa Sunter, setelah pulang dari Flores saya masuk TK. Sejarah mencatat awal mulanya daerah ini di temukan oleh seorang dari negara Belanda yang bernama Van Such Telen pada tahun 1915 — Waw saya di mana? Karena keindahan warna air di kawah dan pemandangan alam dengan pohon pinus yang rimbun, Danau Kelimutu menjadi terkenal di dunia dan menjadi salah satu dari 9 keajaiban dunia.

Sejak 26 Febuari tahun 1992 pemerintah Indonesia menetapkan Danau Kelimutu dan sekitarnya menjadi kawasan Konservasi Alam Nasional Indonesia. Menurut cerita Ayah bahwa Danau Kelimutu juga terkenal sangat angker dan dari cerita keangkeran Kelimutu terkenal hingga ke negara lain, hal itu dapat di buktikan dengan buku yang di tulis oleh Y.Bouman yang melukiskan keindahan Danau Kelimutu pada tahun 1929 mengatakan selain indah juga angker. Ternyata bule-bule itu suka dengan keajaiban warna Danau Kelimutu dan alam yang indah untuk kemudian mereka membuat penelitian.

Tahun 1975 Ayah pergi ke sana, mencapai puncak menggunakan mobil Land Rover membutuhkan waktu 2 hari pulang pergi dari puncak gunung. Jalan menuju puncak Kelimutu waktu itu berliku-liku, licin dan sempit hanya cukup untuk satu mobil, kiri dan kanan jalan terdapat jurang yang dalam dan tebing yang tinggi. Sehingga jika ada mobil yang sedang menuju ke atas harus bersama-sama jika ada rombongan mobil yang turun dari puncak gunung Kelimutu, mobil lain yang hendak naik harus menunggu bergantian melintasi jalan itu tetapi sekarang keadaannya telah berubah jalannya sudah di perbaiki pemerintah setempat tetapi mobil tidak bisa lagi mencapai bibir danau pengunjung harus melewati jalan setapak kurang lebih satu kilometer untuk mencapai bibir danau.

Keindahan dan keangkeran seolah menyatu di puncak gunung yang terdapat danau tiga warna itu, wisatawan asing suka itu, mereka datang tidak hanya untuk melihat keajaiban Danau Kelimutu tetapi setelah tiba di sana mereka pergi ke hutan di sekitar untuk melihat-lihat sambil menyelidiki, tetapi wisatawan lokal akan merasa seram dan ngeri karena Danau Kelimutu tidak seperti danau biasa yang sering kita lihat, ketiga danau berwarna itu berada di lubang kawah yang luas (seperti sumur besar). Pinggiran danau yang terjal itu juga mudah longsor karena keadaan tanah yang labil.

Luas danau Kelimutu kurang lebih satu kilometer persegi dengan kemiringan dinding danau 70 derajat, jarak dari permukaan air kurang lebih 50 meter hingga 150 meter. Para wisatawan tidak berani berdiri langsung di pinggir danau karena kondisi tanah di sekitarnya labil sehingga mudah longsor… Aduh seram banget — Helikopter juga tidak berani melintas tepat di permukaan danau yang seperti sumur luas itu, pihak Taman Nasional Kelimutu membuat pagar pembatas dengan jarak yang aman untuk wisatawan, sementara jika hari telah senja angin bertiup cukup kencang menerpa hutan pinus yang berada di sekitar danau sehingga menimbulkan suara-suara aneh seperti suara orang menangis dan suara tangisan bayi yang berasal dari gesekan daun dan batang pohon pinus, cemara, kayu merah dan edelweiss di puncak gunung sehingga menimbulkan suasana angker hehehe… danau tiga warna itupun akan tertutup oleh kabut dengan jarak pandang sekitar satu meter.

Masyarakat setempat percaya perubahan warna danau itu mempunyai arti tersendiri. Mereka menyebut “Tiwu Kelimutu”, tiwu berarti danau, kata Kelimutu mempunyai dua arti, Keli berarti Gunung, Mutu berarti Mendidih atau Panas terbakar. Penduduk setempat percaya Danau Kelimutu memiliki arti masing-masing dan menyebut ketiga danau itu dengan nama berbeda.

Danau berwarna biru disebut “Tiwu Nuwa Muri Koo Fai” danau tempat berkumpulnya roh pemuda dan pemudi yang telah meninggal. Danau berwarna putih disebut “Tiwu Ata Mbupu” yang berarti danau orangtua sebagai tempat berkumpulnya roh orangtua mereka yang telah meninggal. Danau yang berwarna merah disebut “Tiwu Ata Polo” yang berarti danau setan atau hantu tempat berkumpulnya roh orang yang telah meninggal tetapi selama hidup orang-orang itu selalu melakukan kejahatan. Perubahan warna danau sering terjadi sehingga tidak bisa memakai warna danau sebagai patokan nama dan letak, ketiga nama danau itu lebih mudah di ingat letak dan tempatnya dengan nama Tiwu Ata Mbupu, Tiwu Nuwa Muri Koo Fai dan Tiwu Ata Polo.

Danau Tiwu Ata Mbupu atau danau roh para orang tua dan danau Tiwu Nuwa Muri Koo Fai atau danau roh pemuda dan pemudi letaknya berhimpitan hanya di batasi oleh dinding tanah kawah yang tipis dengan permukaan yang lancip sehingga mudah longsor jika terjadi hujan atau gempa sedangkan danau Tiwu Ata Polo atau danau roh para orang jahat (daerah Flores juga terkenal dengan tukang santet/tenung) letaknya berjauhan.

Perubahan warna Danau Kelimutu sering terjadi karena disebabkan oleh karbon, mineral dan biota jenis lumut yang melekat pada batu-batuan di dasar danau dalam kawah tersebut. Pada bulan Mei 1997 terjadi perubahan warna, Tiwu Ata Polo dari sebelumnya cokelat maupun hijau tua menjadi merah hati, Tiwu Ata Mbupu dari cokelat tua dan hitam berubah menjadi hijau kecoklatan.

Rute termuda untuk mencapai lokasi Taman Nasional Kelimutu, pertama jika dari Jakarta mengambil rute perjalanan udara Jakarta - Kupang - Maumere Flores. Jika berangkat dari Surabaya - Kupang - Maumere Flores. Lebih banyak pilihan jika dari Denpasar Bali, hehehe… lokasi wisata yang indah dan alami terbentang dari Bali, Lombok hingga ke Flores dan Alor. Jika ingin langsung dan cepat adalah pilihan rute penerbangan Denpasar langsung ke Maumere. Pilihan kedua dari Denpasar - Kupang - Maumere.

Pilihan ketiga dari Denpasar Bali terserah kamu lewat darat dan laut. Setelah Bali bisa mampir dulu ke Pantai Senggigi Lombok, Taman Nasional Komodo kemudian Taman Nasional Kelimutu. Perjalanan dari Komodo ke Kelimutu juga terdapat beberapa perkampungan suku-suku setempat yang layak dikunjungi. Tetapi itu memerlukan fisik yang kuat, kamu harus benar-benar siap fisik dan mental untuk melintasi laut dengan kapal dan jalan darat yang panjang dan berliku-liku, naik turun gunung terjal dengan mobil di jalan sempit terutama di daerah Flores. Saya sendiri heran lalu bertanya kepada Ayah ketika mengikuti beliau ke Flores. “Papi ko ga nyampai-nyampai ini dari tadi belok-belok melulu di hutan kapan tiba?” baru belok kiri belum sempat lurus roda mobil kami sudah belok lagi dan naik turun gunung. Jika melakukan perjalanan di Flores sebaiknya pilih perjalanan waktu siang hari, siapkan camera dengan lensa yang baik, pemandangan alam dari puncak gunung ke lembah hingga laut dengan pulau-pulau kecil di sekitarnya sungguh indah.

Pemandangan alam sungguh menakjubkan ketika melintasi daerah Lombok hingga Flores. Semua pantai indah segar alami! Kondisi pantai asli, belum terjamah tangan orang jahil, air laut yang bening hingga kamu bisa melihat dasar laut yang indah penuh dengan terumbu karang warna-warni dan itu benar-benar indah di perairan Komodo dan Rinca Labuhan Bajo. Jika dari Komodo harus melintasi tiga kabupaten baru mencapai Danau Kelimutu, Jadi lebih mudah datang dari Maumere kemudian bisa kembali ke Jakarta, Surabaya, Denpasar Bali dan Kupang Darwin juga dari Maumere.

Pilihan rute perjalanan terakhir untuk mereka yang datang dari Australia bisa melewati Darwin - Kupang - Maumere Flores. Perjalan selanjutnya untuk semua yang telah tiba di Maumere bisa menggunakan tranportasi darat dengan kendaraan umum atau mobil sewaan hingga lebih bebas menuju Moni, Moni adalah kampung terdekat menuju Danau Kelimutu, di sana juga tersedia Cottage dan Homestay, tempat penginapan yang di kelola pemerintah serta penduduk.

Menurut laporan dari Taman Nasional Kelimutu, koordinator teknis Dwi Sutantohadi perubahan warna danau itu telah terjadi lagi sejak Desember lalu. Perubahan warna itu terjadi pada kawah Tiwu Ata Polo dan Tiwu Nua Muri Koo Fai. Tiwu Ata Polo yang biasanya berwarna cokelat tua kehitaman kini telah berubah warna menjadi hijau tua, sedangkan Tiwu Nua Muri Koo Fai dari hijau muda berubah menjadi hijau kebiru-biruan. Sementara satu danau yang lain, Tiwu Ata Mbupu warnanya masih seperti biasa, hijau tua kehitaman. Perubahan ini adalah hal yang biasa merupakan fenomena alam, jadi jangan di kaitkan dengan hal-hal mistik. Perubahan warna danau karena proses unsur kimia tanah yang merupakan bagian dari aktivitas gunung api. Penduduk setempat percaya bahwa gejala alam ini mempunyai arti dan mereka percaya ini sebagai tanda atau peringatan alam yang harus diperhatikan.

Berikut foto-foto dari Danau Kelimutu:



















Senin, 21 Desember 2009

Legenda Pulau Flores dan Manggarai


Nama Pulau Flores berasal dari Bahasa Portugis “Copa de Flores” yang berarti ” Tanjung Bunga”. Nama ini diberikan oleh S.M.Cabot untuk menyebut wilayah paling timur dari Pulau Flores. Nama ini secara resmi dipakai sejak tahun 1636 oleh Gubernur Jendral Hindia Belanda Hendrik Brouwer. Nama Flores sudah dipakai hampir empat abad. Lewat sebuah studi yang cukup mendalam Orinbao (1969) nama asli Pulau Flores adalah Nusa Nipa yang berarti Pulau Ular.
Sejarah masyarakat Flores menunjukkan bahwa pulau ini dihuni oleh berbagai kelompok etnis. Masing-masing etnis menempati wilayah tertentu lengkap dengan pranata sosial budaya dan ideologi yang mengikat anggota masyarakatnya secara utuh (Barlow, 1989; Taum, 1997b). Ditinjau dari sudut bahasa dan budaya, etnis di Flores (Keraf, 1978; Fernandez, 1996) adalah sebagai berikut:
• Etnis Manggarai – Riung (yang meliputi kelompok bahasa Manggarai, Pae, Mbai, Rajong, dan Mbaen);
• Etnis Ngadha-Lio (terdiri dari kelompok bahasa-bahasa Rangga, Maung, Ngadha, Nage, Keo, Palue, Ende dan Lio);
• Etnis Mukang (meliputi bahasa Sikka, Krowe, Mukang dan Muhang);
• Etnis Lamaholot (meliputi kelompok bahasa Lamaholot Barat, Lamaholot Timur, dan Lamaholot Tengah);
• Etnis Kedang (yang digunakan di wilayah Pulau Lembata bagian selatan).l3
Masyarakat Manggarai Barat merupakan bagian dari masyarakat Manggarai. Pada zaman reformasi, Manggarai mengalami perubahan, dengan melakukan pemekaran wilayah menjadi Manggarai dan Manggarai Barat. Perubahan ini terjadi pada tahun 2003. Pemekaran wilayah ini bertujuan untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Sehingga secara historis antara masyarakat Manggarai dan Manggarai Barat tidak dapat dipisahkan diantara keduanya.

Masyarakat Manggarai (termasuk masyarakat Manggarai Barat) merupakan bagian dari enam kelompok etnis di Pulau Flores seperti diuraikan di atas. Manggarai adalah bagian dari Manggarai-Riung. Dalam masyarakat tradisional Manggarai termasuk Manggarai Barat terdiri dari 38 kedaluan (hameente), yakni: Ruteng, Rahong, Ndoso, Kolang, Lelak, Wotong, Todo, Pongkir, Pocoleok, Sita, Torokgolo, Ronggakoe, Kepo, Manus, Rimu, Welak, Pacar, Reho, Bari, Pasat, Nggalak, Ruis, Reo, Cibal, Lambaleda, Congkar, Biting, Pota, Rembong, Rajong, Ngoo, Mburak, Kempo, Boleng, Matawae, Lo’o dan Bajo. Dari setiap kedaluan bersemi mitos atau kisah kuno mengenai asal usul leluhurnya dengan banyak kesamaan, yaitu bagaimana nenek moyangnya datang dari laut/seberang, bagaimana nenek moyangnya turun dari gunung, menyebar dan mengembangkan hidup dan kehidupan purbanya serta titisannya.

Manggarai (termasuk Manggarai Barat) Sampai Abad XIX Seperti daerah lain di NTT, Manggarai juga mendapat pengaruh pengembaraan dari orang-orang dari seberang, seperti Cina, Jawa, Bugis, Makasar, Belanda dan sebagainya.

Cina
Pengaruh Cina cukup kuat dan merata di seluruh propinsi NTT. Di Manggarai, pengaruh Cina dibuktikan dengan ditemukannya barang-barang Cina seperti guci, cermin, perunggu, uang cina dan sebagainya. Pengaruh Cina dimulai sejak awal masehi. Dari benda-benda yang ditemukan di Warloka terdapat sejumlah benda antik dari Dinasti Sung dan Ming, dibuat antara tahun 960 sampai tahun 1644.

Jawa
Pengaruh Jawa terutama berlangsung pada masa Hindu. Di Timo, pada tahun 1225 telah ada utusan dari Jawa. Diberbagai daerah di NTT ditemukan mitos mengenai Madjapahit. Sedangkan di Manggarai, label Jawa jadi toponimi di beberapa tempat, seperti Benteng Jawa.

Bugis, Makasar, Bima.
Pengaruh Bugis, Makasar di NTT termasuk luas, di Flores, Solor, Lembata, Alor dan Pantar.
Kesultanan Goa. Sekitar tahun 1666, orang-orang Makasar, Sultan Goa, tidak hanya menguasai Flores Barat bagian selatan, tetapi juga seluruh Manggarai. Mereka menyetorkan upeti / pajak ke Sultan Goa. Kesultanan Goa berjaya di Flores sekitar tahun 1613 –1640. Pengaruh Goa nampak diantaranya pada budaya baju bodo dan pengistilahan Dewa Tertinggi Mori Kraeng. Dalam peristilahan harian, kata Kraeng dikenakan bagi para ningrat. Istilah tersebut mengingatkan gelar Kraeng atau Daeng dari gelar kebangsawanan di Sulawesi Selatan.

Kesultanan Bima. Pada tahun 1722, Sultan Goa dan Bima berunding. Hasil perundingan, daerah Manggarai diserahkan kepada Sultan Bima sebagai mas kawin. Sementara itu, di Manggarai muncul pertentangan antara Cibal dan Todo. Tak pelak, meletus pertempuran di Reok dan Rampas Rongot atau dikenal dengan Perang Rongot, yang dimenangkan Cibal. Pertentangan antara Cibal dan Todo, kemudian melahirkan Perang Weol I, Perang Weol II dan Perang Bea Loli (Wudi). Perang Weol Ikemenangan di pihak Cibal. Tetapi dalam perang Weol II dan Perang Bea Loli, Cibal mengalami kekalahan. Bima saat itu membantu Todo. Kenyataan ini mengkokohkan posisi Bima di Manggarai, hingga masuknya pengaruh ekspedisi Belanda pertama tahun 1850 dan ekspedisi kedua tahun 1890 dibawah pimpinan Meerburg. Ekspedisi yang terakhir pada tahun 1905 dibawah Pimpinan H.Christofel. Kehadiran Belanda di Manggarai, membuahkan perlawanan sengit antara Belanda dan rakyat Manggarai di bawah Pimpinan Guru Amenumpang yang bergelar Motang Rua tahun 1907 dan 1908. Namun sebelum menghadapi perlawanan Motang Rua, Belanda mendapat perlawanan dari Kraeng Tampong yang akhirnya tewas ditembak Belanda dan dikuburkan di Compang Mano.
Selain Kesultanan Goa dan Bima Kerajaan lain yang pernah berkuasa di Manggarai adalah Kerajaan Cibal, Kerajaan Lambaleda, Kerajaan Todo, Kerajaan Tana Dena dan Kerajaan Bajo. Pada saat ini bukti serajah tentang kerajaan tersebut yang masih tersisa adalah Kerajaan Todo, walaupun kondisinya sudah sangat memprihatinkan. Referensi tentang penelusuran tentang kerajaan-kerajaan Manggarai sulit untuk didapatkan.

Belanda.
Pengaruh Belanda ada sejak adanya 3 kali ekspedisi Belanda ke Manggarai, yaitu tahun 1850,1890, dan tahun 1905. Pengaruh Belanda di Manggarai terutama pada didirikannya sekolah-sekolah dan agama Katolik.

Minggu, 10 Mei 2009

Memahami Alam Pikiran Tradisional Orang Manggarai

Paham-paham personal pun kolektif yang mencuat ke permukaan dari suatu masyarakat merupakan buah dari penghayatan interaksi dan sosialisasi. Bila ditilik dari perspektif fenomenologi mod­ern, setiap pengalaman yang ada pada manusia (masyarakat) selalu merupakan eksteriorisasi dari sebuah pengalaman tentang sesuatu. Sesuatu yang merupakan isi dari pengalaman itu bisa berupa interaksi antar-persona, juga interaksi persona dengan lingkun­gan, tradisi dan adat-istiadat yang merupakan dimensi-dimensi yang melingkupi adanya (masyarakat etnis) manusia.

Secara eksternal, hal-hal yang menyangkut pola laku, sikap dan cara pandang merupakan ekspresi paling real dari terbentukn­ya kepribadian manusia. Pada aras komunitas etnis, keterkaitan antar-pribadi memberi warna khas yang membedakan satu kelompok masyarakat etnis dengan kelompok masyarakat etnis yang lainnya. Inilah yang dalam termin antropologi budaya disebut suku bangsa, atau ras. Rasa keterkaitan yang intim dalam kelompok ras menjadi titik tumpu lahirnya karakter khas dan eksklusif tertentu pada orang-orang dari daerah asal yang sama ketika mereka berada dalam satu masyarakat multikultural (masyarakat kota). Namun demikian, eksklusivitas itu tidak boleh dipandang sebagai tanda larang untuk satu interaksi lintas kultural yang baru. Justru dengan kesadaran akan diferensiasi itulah ciri dinamis eksisten­si manusia diaktualisasikan. Manusia sanggup beradaptasi bahkan merupakan ciptaan Allah yang memiliki derajat kesanggupan "penyesuaian diri" paling tinggi.

Demikianlah, untuk memahami kepribadian masyarakat etnis yang termuat dalam sikap dan pola pikir maupun cara pandang orang tertentu semestinya tidak boleh secara subjektif-relatif ditakar berdasarkan situasi aktualnya saja di tempat mana ia hidup dan berinteraksi. Setiap proses, dalam hal ini interaksi sosial lintas kultural manusia, dalam bingkai inklusif masyarakat di mana hidup orang-orang dari latar belakang etnis yang berbeda-beda, selalu berdimensi ganda. Di satu sisi, ada kuali­tas-kualitas tertentu yang akan lenyap atau berubah (misalnya sifat ekslusif), dan di sisi lain, ada unsur-unsur yang tetap (kekhasan alam pikiran) yang tidak berubah. Dari perspektif ini, kembali harus ditegaskan bahwa untuk menilai (jati diri) orang tertentu harus disertai pertimbangan mengenai latar belakang etnis-primordial dari mana orang itu datang. Hanya dengan ker­angka itu, kita memiliki pegangan yang cukup objektif dan pema­haman yang komperehensif mengapa orang-orang dari setting budaya yang sama memiliki karakater tertentu yang relatif sama, misa­lnya bertemperamen halus, lemah, sopan, atau bahkan kasar dan beringas.

Tulisan ini hendak melukiskan secara sedikit ilmiah, seka­lipun hanya sepintas saja, prihal "Orang Manggarai". Mengapa orang Manggarai memiliki sifat-sifat, pola pikir "begini" atau "begitu"? Apa sesungguhnya yang mereka hidupi dalam lingkungan primordialnya dan bagaimana hal-hal itu berpengaruh terhadap masyarakat maupun individu-individu yang lahir dalam bingkai masyarakat etnis Manggarai itu? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan inilah yang menjadi titik tumpu refleksi penulis. Tentu saja simpul dari tulisan ini adalah pemahaman yang sedikit lebih komperehensif bahwa kemam­puan orang Manggarai untuk mengungkapkan diri tetap merupakan bukti keunggulannya sebagai manusia. Dan, unsur-unsur khas yang melekat pada "orang Manggarai" yang dihidupinya dalam komunitas plural dan inklusif mengungkapkan penghayatan emosionalnya yang mendalam akan pengalaman-pengalaman kulturalnya.

Alam Pikiran Orang Manggarai

Mengapa latar belakang falsafah (alam pikiran) penting ditelaah? Karena trend umum bahwa kajian filosofis-antropologis merupakan satu studi yang aktual dan relevan saja? Jawaban yang boleh mengemuka untuk persoalan di atas adalah "barangkali". Paling kurang ada dua pertimbangan penting mengapa dikatakan "barangkali" ketika saya berhadapan dengan persoalan seperti ini. Pertama, kenyataan plural realitas etnis di negara kita merupakan satu "kekuatan" serentak "bahaya". Pluralitas etnis menjadi kekuatan jika dimengerti dan dipahami tidak terlepas dari konteks orisinalitas eksistensi suatu masyarakat etnis untuk selanjutnya dihargai sebagai potensi produktif bagi kese­jahteraan dan kebanggaan hidup sebagai bangsa Indonesia. Akan tetapi di sisi lain, kemajemukan dapat menjadi sumber api berba­haya bila spirit primordialisme etnis dan cara pandang antar-etnis dibiarkan berkembang stereotipe tanpa pengelolaan yang matang. Dari dalam situasi ini, hanya akan muncul rasa saling curiga, tidak saling menghargai kekhasan budaya dan adat-istia­dat, arogansi etnis-kultural, dst. yang justru merupakan pemicu bagi merusak dan merenggangnya komunikasi inter-sosio-kultural sebagai satu bangsa. Jadi, usaha mendalami alam pikiran masyarakat etnis tertentu, dalam hal ini kelompok etnis Manggarai, berguna untuk membina kedewasaan relasi antar-masyarakat etnis dalam lingkup sosial yang lebih luas.

Kedua, alam pikiran suatu kelompok masyarakat etnis terten­tu, meskipun tidak selalu berciri ilmiah-sistematis, sangat bermanfaat bagi pengembangan ilmu-ilmu sosio-antropologi. Dan, dalam konteks hidup bernegara, menyadarkan setiap warga negara untuk senantiasa menaruh hormat terhadap nilai-nilai pluralitas. Kesadaran yang sama turut memacu kematangan hidup sebagai bangsa yang demokratis. Memahami falsafah hidup, juga turut menyadarkan kita mengenai jati diri kebudayaan kita masing-masing. Itu berarti, "kesadaran" selalu merupakan sumber cahaya yang menumbuhkan kuncup-kuncup semangat untuk, meminjam kata-kata Abraham Maslow, mengaktualisasikan diri. Apa artinya bertanya: mengapa orang Manggarai memiliki kebiasaan dan sikap "begini" atau "begitu"?, jikalau hal itu tidak menghantar kita kepada kejernihan kesadar­an dan penemuan jati diri sendiri di tengah realitas sosio-kultural yang serbaneka ini?

Kebersamaan dan Orang Lain

Sejak manusia lahir dari rahim ibunya, ia tidak pernah hidup sebatang kara. Walaupun karena kerapuhan insaninya, mas­ing-msing orang cenderung untuk membebaskan diri dari ikatan sosial-kultural. Tuntutan hidup bersama ini mendorong orang tua-tua dulu harus berpikir dan mencari syarat-syarat dasarnya. Kesadaran itu terungkap misalnya dalam cara orang tua secara turun temurun menegur anaknya yang mengabaikan aturan hidup bersama. "Nana di'a-di'a bantang agu hae ata, calung-calung gauk agu hae wa'u, ai landing le mangad ase ka'e do; ai ite tara manga ranga'd one lino hoo. Toe le bengkar one mai belang. Ite hoo manga taung kuni agu kalo'd mose'd. Maik tara manga dite ai le manga dise Ende agu Ema, Ase agu Ka'e." (Terjemahan bebasnya: Anak, bekerja samalah yang baik dengan orang lain, juga berlaku baik terhadap famili. Keberadaan kita di atas muka bumi bukan sesuatu yang terlempar begitu saja seolah-olah dari rumpun buluh atau ada karena sesuatu yang ajaib. Kita ada karena orang lain ada, karena ada Ayah dan Ibu serta Saudara dan Saudari). Kiasan yang paling ditekankan dalam rentetan kata di atas adalah frase "bengkar one mai belang". Kata "bengkar" dalam bahasa Manggarai sinonim dengan kata "pecak". Keduanya mempunyai arti yang kira-kira sama, yaitu "menetas". "Belang" adalah genus bambu-bambuan, bambu yang pipih atau tipis atau lebih tepat semacam "buluh" untuk membuat seruling bambu. Jadi, seluruh frase "bengkar one belang" secara harafiah-etimologis berarti: menetas dari dalam bambu.

Dari terjemahan sederhana itu, tampak bahwa kata-kata itu tidak bermakna. Akan tetapi dalam tradisi, penggunaan kiasan itu sekurang-kurangnya menyiratkan tiga arti: pertama, mematahkan dongeng kuno (kepercayaan mitis-magis) di Manggarai yang berpan­dangan bahwa ada manusia yang pernah lahir dari rumpun bambu. Tentu saja dengan makin berkembangnya kesadaran dan pengaruh unsur-unsur kebudayaan luar (Goa dan Bima) yang masuk ke Manggarai, maka keyakinan itu sedikit demi sedikit memudar sampai disadari sebagai kepercayaan yang sia-sia (pengaruh masuknya agama-agama mondial). Kedua, kata-kata itu juga merupakan suatu petuah yang senantiasa diungkapkan oleh orang tua terhadap anak-anak mereka yang mulai beranjak dewasa dan mandiri. Mereka selalu dinasehati untuk tidak melupakan "kuni agu kalo", kampung halaman, terutama orang tua dan sanak keluarga, kalau mereka sudah tinggal terpisah dari orang tua. Ketiga, ungkapan yang sama selalu memberi warna bagi cara menyampaikan sesuatu secara khas lewat bahasa-bahasa kiasan-alegoris.

Tradisi komunikasi adat di Manggarai merupakan semacam spiral yang berputar-putar dan berbelit-belit, tapi maksudnya yang sebenarnya hanya sedi­kit. Sekali pun secara rasional, penggunaan bahasa yang demikian sama sekali tidak efektif dalam komunikasi, tapi toh hal itu sudah dihidupi secara inheren. Tidak mengherankan jika ada kebiasaan orang-orang tua di pedesaan yang bila bertamu, pembi­caraannya akan memakan waktu berjam-jam. Tapi maksud yang sebe­narnya akan dia ungkapkan ketika si tamu hendak beranjak pulang.Misalnya ia datang untuk "meminjam barang tertentu" atau "mengajak tuan rumah untuk menghadiri suatu kegiatan tertentu", dll. Dengan demikian, terlihat bahwa ada sekian banyak interpre­tasi yang dapat kita berikan berhadapan dengan kiasan atau "go'et" yang dibahasakan secara halus (eufemistis).

Selain itu, dalam tradisi juga sudah ada pertanyaan menge­nai makna dan tujuan hidup bersama, yakni dambaan untuk hidup tentram, damai dan selaras dengan apa yang dihidupi oleh masyar­akat. Dalam hal kerja sama sosial, terdapat ungkapan "Reje le­leng, bantang cama (berembuk secara bersama dan laksanakan pula secara bersama, atau hidup saling membantu). Kata-kata ini mengekspresikan adanya nilai-nilai "kesalingan dalam kebersa­maan" dalam hal menyelesaikan tugas bersama, memenuhi kebutuhan hidup, termasuk bagaimana orang-orang berembuk dalam rencana menyelesaikan pekerjaan berat atau urusan masalah adat yang mengharuskan keterlibatan keluarga besar. Menurut orang Manggar­ai, oleh cara demikian, setiap manusia dalam satu masyarakat dapat melibatkan diri secara bertanggung jawab dalam mengusaha­kan hidup bersama yang sejahtera penuh kedamaian.

Dalam kerangka hidup bersama, pelukisan di atas tidak berarti Orang Manggarai mengabaikan personalitas. Seorang priba­di, menurut cara pandang mereka, memiliki tempat tertentu di dalam lingkup sosial. Walaupun secara tradisional pandangan-pandangan patriarkis dan diskriminatif masih ada. Misalnya ada perlakuan yang berbeda-beda terhadap pribadi-pribadi bergantung pada atribut yang melekat pada mereka. Dengan demikian sepintas terlihat bahwa perlakuan terhadap pribadi-pribadi sangat bergan­tung pada atribut-atribut atau status sosial yang melekat dalam diri orang itu. Sekalipun demikian, jati diri seseorang tetap ditonjolkan dalam kebersamaan. Orang Manggarai tetap berkeyaki­nan bahwa setiap orang memiliki kekhasan-kekhasan individual. Nama, misalnya, merupakan sesuatu yang sangat pribadi. Dalam banyak hal, nama merupakan simbol tunggal, hanya mewakili priba­di yang bersangkutan. Dan karena itu, pemberian nama semata-mata ditentukan menurut "selera" pemberi nama, tanpa ikatan marga. Hal ini menjadi alasan yang mungkin mengapa orang Manggarai "seolah-olah" diberi nama sesuka hati. Masing-masing anak dari orang tua yang sama diberi nama belakang yang berbeda-beda (bdk. Frans Borgias, 1990, hlm. 180-189).

Selain itu tradisi masyarakat sudah memiliki pandangan yang positif terhadap keberadaan seseorang. Manusia adalah ciptaan yang patut disyukuri dan dihargai. Sehubungan dengan itu, para orang tua tidak begitu saja larut dalam perasaan kecewa karena melahirkan anak-anak yang tidak sesuai dengan ideal mereka, bertingkah laku dan sikap anak yang berlawanan dengan harapan orang tua. Mereka tetap menaruh kasih pada anak-anak mereka. Sebuah penggalan syair lagu Manggarai klasik "Oe Inang, Oe Amang" berbunyi demikian: Am daatn'e, tama mangan'e; Am nenin'e, tama wekin'e (biar buruk rupanya, yang penting dia ada; biar kulitnya hitam yang penting ia berbadan). Dari penggalan lagu ini terlihat bahwa hormat terhadap keberadaan manusia merupakan suatu keharusan justru karena ia ada dan hadir di tengah masyar­akat (keluarga).

"Keunggualan hidup" pribadi mendapat tempat yang positif dan senantiasa diperjuangkan sebagai satu ideal. Setiap anak oleh orang tuanya dinasehati untuk memiliki persiapan bagi masa depan yang baik. Secara parabolis dikatakan agar seseorang senantiasa hidup seperti pohon yang kokoh: "Wake caler ngger wa, saung bembang ngger eta." (Berakar kuat ke dalam tanah, dan berdaun rimbun). Ini mengisyaratkan suatu perjuangan hidup yang sungguh-sungguh. Kesungguhan itu harus tampak dalam kematangan sikap hidup, pola pikir dan tutur kata, juga memiliki rasa tanggung jawab baik secara horisontal maupun vertikal.

Sketsa Mengenai Cara Mengenal yang Abstrak

Dari kuliah epistemologi, kita memahami abstraksi sebagai aktivitas budi manusia yang normal di mana kesadaran manusia mampu menarik citra dari suatu objek sekalipun objek itu secara real tidak hadir di hadapan si subjek. Kesanggupan itu rupanya sudah dikenal dalam tradisi hidup Orang Manggarai. Hal itu terlihat misalnya dari cara mereka membahasakan realitas semes­ta. Di sana secara sederhana sudah ada kesanggupan yang melekat dalam diri oarang tua-tua zaman lampau untuk menarik pemahaman sederhana dari benda-benda yang dilihatnya. Hal paling mencolok di sini biasanya tampak dalam gaya pengungkapan yang kaya dengan personifikasi-personifikasi, termasuk juga kiasan-kissan parabo­lis tertentu yang mencoba menarik garis penghubung yang melukis­kan kedekatan makhluk manusia dengan makhluk-makhluk dan reali­tas alam sekitarnya.

Dalam kaitannya dengan usaha menjadi manu­sia ideal, orang tua-tua menggunakan kiasan berikut: "lankas haeng ntala; agu uwa haeng wulang (agar tinggi menggapai bintang dan bertumbuh menggapai bulan). Kata-kata ini dapat ditafsirkan sebagai suatu dorongan kepada anak-anak dan generasi muda untuk memupuk diri menjadi manusia ideal. Sebab itu, meskipun seseor­ang tidak melihat suatu benda pada saat tertentu, dia bisa memiliki pengertian tentang benda itu. "Teu ca ambo neka woleng jangkong, muku ce puu neka woleng curup" (Tebu serumpun jangan beda bicara, pisang sepohon janganlah berbeda tutur kata). Ungkapan itu menyiratkan personifikasi di mana benda-benda yang disebutkan tidak hadir secara real atau dilukiskan seperti manusia. Namun demikian biasanya konteksnya bisa dipahami.

Barangkali abstraksi sederhana inilah yang melatar belakan­gi mengapa maysarakat adat di Manggarai kaya dengan pengungkapan lisan yang berasal dari rentetan bunyi kata yang homofon yang disebut "go'et". Go'et sepintas kedengaran klise, tapi bila dipakai dalam ritus adat, maka go'et menjadi kata-kata manjur dengan pelbagai nuansa. Ia bisa menjadi sebuah lambang kesopanan serentak mengandung sindiran tidak langsung untuk lawan bicara. Tidak semua orang awam mampu menggunakan bahasa go'et secara baik. Go'et sering dipakai oleh sesepuh kampung (tu'a golo) atau oleh pembicara yang mewakili masing-masing keluarga mempelai pada upacara masuk minta (pongo wina) atau pada momen kesepakatan nikah atau tukar cincin secara adat (rekak agu tukar kila).

Catatan Akhir

Di samping hal-hal positif di atas, kerapkali terjadi bahwa apa yang diungkapkan dengan bahasa halus (segol), seperti kebia­saan orang-orang di desa-desa, berbanding terbalik dengan kenyataan yang bakal berjalan. Maka dalam hal memahami alam pikiran Orang Manggarai, "kebingungan" yang ditimbulkan oleh sikap dan tutur katanya dapat menjerat orang kepada misinterpretasi. Artinya, di satu sisi, dengan membahasakan sesuatu secara terba­lik, orang Manggarai langsung memahami pesan yang mau disampai­kan, yakni mengacu kepada etika sopan-santun terhadap lawan bicara. Akan tetapi di sisi lain, untuk orang yang tidak mengen­al baik kekhasan cara berpikir/sikap tersebut, maka hal itu justru menimbulkan salah paham. Satu ilustrasi kecil. Pengalaman awal seorang Pastor asal "Lamaholot" (Flores Timur) yang berkar­ya di pedalaman Manggarai. Mula-mula ia merasa sangat bingung dengan kebiasaan bertingkah laku dan gaya berbicara umatnya. Setiap kali ia mengatakan "begini" atau "begitu", maka umat (lawan bicaranya) selalu mengangguk dalam sambil mengatakan "io" (artinya ya). "Jika mereka diminta atau diperintahkan membuat sesuatu," demikian cerita sang pastor, "saya selalu mendapatkan jawaban "io" dengan anggukan mendalam. Tapi kenyataan setelahn­ya? "Sekian sering", cerita Pastor, "mereka tidak berbuat sesua­tu apa pun dari jawaban io mereka." Mengapa demikian? Pertanyaan sang Pastor sekali lagi menarik kita untuk melihat latar bela­kang hidup dan kebiasaan yang inheren pada setiap lapisan ma­syarakat Manggarai.

Bahwasannya, Orang Manggarai (orang-orang sederhana, yang ikatan adat mitis-magisnya masih kental) tidak mungkin mengatakan "tidak mau" atau "tidak suka" (toek, toe gori'g, toe ngoeng'g) kepada seseorang yang ia hormati, walaupun apa yang diminta orang itu daripadanya tidak sanggup ia lakukan atau bertetangan dengan pandangan atau pendapatnya. Bila ditelu­suri lebih dalam, maka ada satu hipotesa menarik yang kiranya mendekati objektif. Hipotesa dari catatan sejarah Paul Coolhas, sebagaimana ditulis oleh J. Verhejen SVD, bahwa secara bergan­tian, Manggarai takluk kepada Kerajaan Goa (Sulawesi Selatan) dan Bima (Sumbawa). Pada tahun 1661, untuk pertama kalinya, Manggarai tunduk di bawah kekuasaan Kerajaan Bima.

Sebagai kerajaan taklukan, maka raja Manggarai wajib membayar upeti kepada penakluknya. Demikian pula yang dilakukan terhadap pen­guasa dari Kerajaan Goa (bdk. F.Pantur, VOX 1994, hlm. 106-107). Sejak saat itu, sikap dan pola pandang orang manggarai adalah sikap dan pola pandang hamba terhadap tuannya. Sebagai hamba ia wajib untuk selalu mengatakan "io" kepada tuannya. Jika tidak demikian maka ia mungkin dihukum atau dibunuh.

Demikianlah sepintas refleksi penulis sehubungan dengan alam pikiran antropologis Orang Manggarai. Sepenuhnya penulis sadari, banyak aspek yang sama sekali tidak disinggung bila dibandingkan dengan luasnya ruang lingkup etnis, adat-istiadat orang Manggarai. Hal ini kiranya dapat dimaklumi oleh karena begitu terbatasnya referensi yang dimiliki penulis.

Apa yang tertuang dalam pikiran sederhana ini, lebih banyak merupakan hasil pengamatan sepintas dari penulis sendiri (selaku orang Manggarai) yang juga turut serta merasakan dan menghidupi adat-istiadat khas Manggarai. Pembahasan dan ekspresi literer ini memang sengaja dimodifikasi sekian sekedar untuk menonjolkan betapa pentingnya penelitian dan pengkajian sosio-antropologis dan kultural yang lebih mendalam akan khasanah hidup yang begitu kaya dari masyarakat adat kita. Akhirnya, penulis berharap tulisan ini berguna, sekurang-kurangnya menjadi ajang kebangki­tan kesadaran orang Manggarai untuk mengemukakan kritik atas tulisan ini.

Minggu, 05 April 2009

Mencoba Lagi Menjadi Orang Manggarai

Menyebut Manggarai mengingatkan kita akan aroma kopi Manggarai yang tersohor.

Kopi merupakan produk unggulan dari daerah ini yang utamanya dihasilkan dari kawasan adat Colol, Kecamatan Poco Ranaka.

Kopi telah mencuatkan daerah ini sejak tahun 1937. Kopi dikembangkan pertama kali di Colol pada sekitar tahun 1920. Tak heran jika pada tahun 1937 para petani memperoleh penghargaan Pemerintah Hindia Belanda sebagai pemenang “Pertandingan Keboen Kopi Arabika”.

Di Negeri Merdeka Mereka Teraniaya

Brutalisme aparat negara atas petani dan masyarakat adat Indonesia kembali terjadi di bumi Manggarai Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Rabu, 10 Maret 2004. Aksi damai sekitar 120 orang petani Colol-Poco Ranaka dihadapi dengan represif aparat polisi. 6 orang[1] petani harus tewas, 28 orang luka tembak peluru tajam, serta puluhan lainnya babak belur dan sisanya ditangkap lalu ditahan di Mapolres Manggarai.

Peristiwa ini bukan yang pertama kalinya. Bukan pula peristiwa yang berdiri sendiri dan terjadi secara tiba-tiba. Tim Advokasi untuk Rakyat Manggarai (TARM) mencatat bahwa tindakan biadab dan pelanggaran Hak Asasi Manusia ini bukan yang pertama kalinya. Pada tahun 2002 Bupati Manggarai Antony Bagul Dagur melalui Surat Instruksi Nomor: DK.522.11/1134/10/2002 tanggal 7 Oktober 2002, telah menginstruksikan untuk melakukan operasi gabungan di kawasan Register Tata Kehutanan (RTK) 111 Meler-Kuwus sejak Oktober 2002-Oktober 2003, dengan melibatkan aparat Mapolres Manggarai, Kodim 1612/Ruteng, Polisi Kehutanan, Polisi Pamong Praja, Balai Konservasi Sumber Daya Alam, Kejaksaan Negeri Ruteng aparat Kecamatan terkait termasuk preman bayaran,.

Operasi digelar dengan cara memusnahkan semua tanaman produktif milik petani (utamanya kopi), serta menangkap serta menyiksa para petani dan masyarakat adat. Dalam operasi ini di kawasan RTK 111 ini, 20 orang petani ditangkap lalu ditahan di Mapolres Manggarai. Selanjutnya, operasi penangkapan petani pertama dilakukan pada tanggal 14-15 Mei 2003 di kawasan eks tanah erpacht Reo di kawasan Gendang (kampung) Mahima. 71 orang petani terdiri dari 56 laki-laki dan 15 orang perempuan ditangkap lalu ditahan di Mapolres Manggarai.

Belum puas dengan 91 orang petani yang sudah ditangkap, pada 29-30 Juni 2003 sejumlah 29 orang petani dari kampung Salama, Reok ditangkap lalu ditahan. Operasi pembabatan tanaman kopi dan tanaman produktif lainnya terus berlangsung di wilayah RTK 118 Taman Wisata Alam (TWA) Ruteng di kawasan Colol, Kecamatan Poco Ranaka hingga Oktober-Desember 2003. Perlawanan komunitas adat Colol yang dilakukan secara damai mempertahankan tanah dan sumber-sumber kehidupannya terus dihadapi dengan tindak kekerasan dan operasi penangkapan. Teror, kekerasan dan penjarahan hasil-hasil pertanian petani, turut menjadi catatan penting dalam gelar operasi yang oleh Tim Terpadu ditargetkan akan dilakukan pada wilayah seluas 86.556.93 ha.

Disamping itu pada tanggal 9 Maret 2004, 7 orang petani terdiri dari 4 orang perempuan dan 3 orang laki-laki ditangkap saat berladang di kawasan Desa Rendenao oleh satuan Tim Terpadu yang dipimpin langsung oleh Bupati Antony Bagul Dagur, kemudian para petani diserahkan pada polisi untuk ditahan di Mapolres Manggarai.

Alasan Bupati Manggarai dan aparat terkait, seluruh operasi dilaksanakan untuk mengamankan kawasan hutan lindung yang didasarkan pada:

a. Undang-undang No.41/1999 tentang Kehutanan;

b. Perjanjian kerjasama antara Departemen Kehutanan, POLRI dan TNI Nomor: 09/Dj-IV/LH/2002 Tentang Penyelenggaraan Operasi Pengamanan Hutan, Kawasan dan Hasil-hasil Hutan;

c. SK Gubernur NTT No.64/1996 Tentang Penetapan Hasil Paduserasi Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi dan Tata Guna Hutan Kesepakatan (TGHK) Propinsi NTT;

d. SK Bupati Nomor: Pb.188.45/27/VI/2002 tentang Pembentukan Tim Terpadu Tingkat Kabupaten Manggarai dalam Rangka Penertiban dan Pengamanan Hutan Manggarai.

Dampak Operasi

Ratusan kepala keluarga (KK) petani dan masyarakat adat harus terusir dari tanah leluhurnya, serta terancam kemiskinan struktural akibat hilangnya sumber-sumber kehidupan mereka. Tak kurang dari 154 orang petani telah ditahan dan dipenjara di Lembaga Pemasyarakatan Ruteng—dalam gelar operasi tanpa kemanusiaan ini. Ribuan anak-anak petani harus rela putus sekolah dan kehilangan kesempatan untuk menikmati masa depan dan suasana hidup yang damai dan berkeadilan. Mereka semua terancam kelaparan massal. Kebanggaan mereka untuk menjadi Orang Manggarai--dengan kopi-nya yang terkenal serta kedalaman tradisi nenek moyang yang terjaga turun temurun--pupus sudah. Luluh-lantah demi kepentingan sang penguasa yang lalim.

Sebuah potret buram dari penerapan kebijakan agraria dan sumberdaya alam yang lagi-lagi masih tidak memihak kepentingan rakyat (kaum tani dan masyarakat adat). Operasi kehutanan di era otonomi daerah yang masih saja mengatasnamakan kepentingan konservasi—namun menistakan kuasa Rakyat!

Kondisi Saat Ini

Orang Manggarai—para korban operasi—saat ini terus berjuang merebut dan mempertahankan tanah dan sumber-sumber kehidupannya melalui wadah Serikat Petani Manggarai (SPM). Organisasi Rakyat Kaum Tani dan Masyarakat Adat yang dideklarasikan pada Hari Tani 24 September 2004 di Ruteng, oleh 35 komunitas adat dan organisasi tani lokal. Tekad mereka sudah bulat. Ketidakadilan ini harus dilawan.

Mereka, mencoba lagi menatap masa depan negerinya dengan ungkapan bahasa sederhana:

…mencoba (lagi) menjadi Orang Manggarai…

Yang terlupakan Didaerah Manggarai

Kebudayaan (kalau dilihat dari atas perbukitan) adalah sebuah cita rasa estetika. Mungkin terwujud secara tak sengaja melalui keseharian masyarakat pendukungnya. Contohnya seperti Sawah Lodok di Cancar Manggarai sebagaimana tampak di photo ini.
photo by Flores Out-door
Kadangkala disebut juga dengan istilah Sawah Lingko atau Sawah Ulayat. Hanya ada di Cancar ruteng Manggarai, NTT, lho...mungkin kagak ade di Chine. Kira - kira kalau dari Ruteng memakan waktu setengah jam perjalanan naik oto.

Jangan lupa naik kendaraan yang ada jendelanya. Supaya Anda dapat membuang pandang pandang ke lembah - lembah yang terhampar luas di sepanjang jalan.Di situlah kita melihat paduan antara keajaiban alam dan keajaiban citarasa manusia yang sesungguhnya. Sawah - sawah mengapung hijau serupa jaring laba - laba raksasa yang setiap sudutnya diikatkan ke dinding perbukitan. Ada kabut tipis yang sesekali menggelusur jatuh, juga dari perbukitan.
Orang menamainya Sawah Lodok. Dinamai sesuai dengan salah satu cara pembagian tanah ulayat dalam komunitas adat Manggarai, NTT. Konon, dari bentuk artistik persawahan itu tercermin betapa kuatnya hubungan kekerabatan masyarakat Cancar. Menurut sebuah sumber Lodok adalah penyebutan lokal untuk sistem pembagian tanah ulayatnya. Tanah-tanah adat yang disebut lingko dibagi kepada warga dengan sistem lodok. Yakni cara membagi lingko yang dimulai dari teno di pusat lingko. Kemudian menarik garis lurus (jari-jari) hingga batas terluar tanah lingko tersebut sebagai batas (langang).
Proses pembagian sebagai berikut: di pusat lingko ditanam sebatang kayu yang disebut “teno”.Dinamakan teno karena sepotong tiang itu diambil dari sejenis pohon yang dinamakan haju teno.(pohon teno). Teno merupakan pusat lingkaran tanah lingko yang selanjutnya disebut sebagai lodok (titi pusat) Dari teno ditarik garis batas yang disebut langang (batas tanah) sampai ke batas terluar tanah lingko yang disebut “cicing”. (lodokn one cicingn pe’ang).
Berapa besar ukuran besaran tanah di lodok (pusat lingko)? Masyarakat Manggarai membaginya berdasarkan “moso” (satu jari tangan) sebagai dasar pembagian awal. Besaran mosopun sangat relatip, tergantung pada berapa jumlah warga yang akan menerima pembagian di lingko bersangkutan. Makin banyak yang akan menerima, makin kecil ukuran moso, demikian pula sebaliknya makin sedikit jumlah penerima, makin besar ukuran moso. Berapa moso dibagikan kepada setiap orang juga bergantung pada kedudukan orang dalam beo (kampung). Maka dikenal istilah moso biasa (satu jari), moso kina (satu setengah jari) dan moso wase (tiga jari). Warga yang dianggap sebagai pemimpin (tu’a beo / golo) atau tuan tanah (tua teno) biasanya mendapat moso wase (tiga jari) yang merupakan ukuran paling besar. Sedangkan warga lainnya akan menerima moso biasa (satu jari) atau moso kina (satu setengah jari).
Hasilnya adalah suatu contur estetika seperti dalam photo ini.

photo by adventure travel

Mengagumkan bukan? Kalau bukan seperti jaring laba - laba, bentuk ini mengingatkan kita pada sebuah kubah yang terbalik. Mungkin di zaman dahulu kala sekali ada sebuah kubah yang terjatuh dari surga dan jatuhnya tepat di bumi Manggarai kali ya...

Lembor - Labuan Bajo
Manggarai memang dikenal sebagai lumbung berasnya NTT. Khusunya Lembor. Kalau di Cancar (yang lokasinya agak masuk ke selatan dari jalan utama Ruteng - Labuan Bajo) kita menemukan keunikan kultur agraris yang masih terpelihara, di kecamatan Lembor kita dapat melihat betapa suburnya NTT. Dari sinilah kebutuhan beras penduduk disuplay sepanjang waktu.Sebagian besar daerahnya adalah dataran luas persawahan yang di lingkari gugusan perbukitan di kejauhan. Luas sekali terlihat.
Ke sana, ke bukit - bukit di kejauhan itulah oto yang menuju labuan Bajo terus bergerak. Apabila sudah terasa jalan mulai mendaki, siapkanlah diri Anda. Jalan makin sempit ke arah Labuan Bajo, aspalnya sudah banyak yang rusak. Kalau sudah begini, siapkan pula lah diri Anda untuk memaki - maki pemerintah dalam hati karena infrastruktur jalan dan transportasi umum yang buruk (dan ini terjadi hampir di seluruh propinsi NTT). Sangat tak sebanding dengan karunia alam yang diberikan kepada Manggarai ini.
Sekali lagi, silahkan menyumpahi pembangunan yang lalai. Sumpah serapah kita tak kan didengar orang kalau di dalam oto. Sebab biasanya ada musik dipasang keras - keras toh. Apalagi sopir oto Ruteng - Labuan Bajo itu biasanya lulusan STM alias Sopir Timor Modifikasi. Dibentuk oleh campuran kultur santri katolik, budaya lokal, budaya indonesia modern dan pengaruh tuak sedikit hehhehe... .... Jadi sudah pasti suka musik dan suka gila-gilaan di jalan sempit yang di sisinya ada jurang - jurang dalam. Mana sempat memperhatikan kita hehehe. Namun tentu saja pengalaman seperti ini hanya terjadi kalau kita naik bis umum.
Kalau menaiki mobil travel tentu lain lagi ceritanya ya. Flores secara umum ditempati oleh masyarakat yang ramah dan penuh toleransi, fair dan karena itu siapapun yang mengunjungi wilayah ini dijamin merasa aman. Seaman perasaan kita menyaksikan panorama luar biasa saat oto menuruni jalan perbukitan ke arah Labuan Bajo menjelang senja.
Ada gugusan bukit yang berlapis - lapis hingga ke bawah sana. Punggung pulau - pulau yang warnanya berubah jingga karena disepuh lembayung senja. sampai di sini, cobalah mengheningkan pikiran. Rasanya kita sedang berada di garis batas alam nyata dan alam gaib. Matahari yang meninggalkan cahayanya di balik gugusan pulau pulau jauh itu bagaikan sebuah pintu gerbang ke alam lain. sedang oto terus melaju mendekatnya.
Tak lama kita saksikan hal seperti itu. Karena hari segera malam dan malam segera menjemput subuh. Pada saat itulah kita selalu ingin melihat Labuan Bajo. Seekor elang putih melayang ringan ke pucuk menara kapal. Hinggap di sana dan matanya yang tajam memandang ke dasar laut yang jernih, perahu - perahu nelayan, gugusan pulau berpasir halus. Sedang ke seberang sana, laut yang tenang dan jernih itu terus mengalun riak dan cahya. Laut yang sepertinya tak ingin menyembunyikan apa - apa yang ada di dasarnya...